Sambut Ekspedisi Arsitektur Lintas Borneo, Pemprov Dorong Pelestarian Warisan Budaya

oleh -113 views
oleh
sisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kaltara, H. Sapi’i, S.T., M.A.P., menyambut kedatangan para peserta sekaligus mengajak mereka melihat Kaltara sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah dan peradaban Borneo

TANJUNG SELOR.LK – Perjalanan itu dimulai jauh sebelum rombongan tiba di Tanjung Selor. Dari Brunei Darussalam, berlanjut ke Sabah, Malaysia, hingga akhirnya menjejakkan kaki di Kalimantan Utara (Kaltara). Yang dicari bukan sekadar bangunan, melainkan cerita yang tersimpan di balik setiap bentuk, ruang dan peninggalan masa lalu.

Perjalanan tersebut menjadi bagian dari Tanju Tanjung Arsitektur (TTA) Seri Ke-5 yang digagas Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Di Tanjung Selor, rangkaian ekspedisi lintas negara itu ditutup dengan malam ramah tamah di depan China Town, Minggu (23/8) malam.

Mewakili Gubernur Kaltara, Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setdaprov Kaltara, H. Sapi’i, S.T., M.A.P., menyambut kedatangan para peserta sekaligus mengajak mereka melihat Kaltara sebagai bagian dari perjalanan panjang sejarah dan peradaban Borneo.

Dalam sambutannya, Sapi’i menjelaskan bahwa istilah “Tanju Tanjung” berasal dari perbendaharaan kata bahasa Dayak yang berarti berjalan-jalan atau berkeliling untuk melihat bangunan-bangunan bersejarah dari dekat.

Namun, menurutnya, makna perjalanan tersebut jauh lebih dalam daripada sekadar melihat bentuk bangunan.

Setiap bangunan membawa jejak masyarakat yang pernah hidup di dalamnya. Ada nilai, kebiasaan, sejarah dan identitas yang melekat dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Yang kita lihat bukan hanya bangunan. Di dalamnya ada cerita dan nilai yang menggambarkan identitas masyarakat,” kata Sapi’i.

Perjalanan TTA Seri Ke-5 pun menjadi gambaran bahwa sejarah Borneo tidak berdiri sendiri-sendiri. Meski kini terbagi dalam batas administratif beberapa negara, Brunei, Sabah dan Kalimantan memiliki keterhubungan sejarah dan budaya yang panjang.

Di Kaltara, cerita itu dapat ditemukan dalam sejumlah peninggalan yang masih bertahan hingga hari ini. Balai Teras Nawang di Desa Teras Nawang, misalnya, menjadi salah satu jejak arsitektur dan sejarah yang masih dapat dikenali.

Begitu pula peninggalan Kesultanan Bulungan dan Masjid Sultan Kasimuddin di Tanjung Palas. Sementara di Tarakan, Rumah Bundar, Balai Adat Tidung, serta lanskap peninggalan kawasan Pertamina menyimpan cerita masing-masing tentang perjalanan daerah ini.

Karena itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara berharap perjalanan tersebut tidak berhenti sebagai pengalaman melihat bangunan lama. Jejak yang ditemukan di sepanjang perjalanan diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para arsitek untuk menciptakan karya baru yang tetap memiliki hubungan dengan tempat dan masyarakatnya.

Sapi’i mengingatkan bahwa pembangunan dan modernisasi akan terus berjalan. Namun, kemajuan tersebut sebaiknya tidak membuat daerah kehilangan wajah dan akar budayanya.

“Arsitektur masa depan jangan sampai kehilangan identitas lokal. Modern boleh, tetapi akar budayanya tetap harus dijaga,” ujarnya.

Dari perjalanan panjang Brunei, Sabah, hingga Tanjung Selor, TTA Seri Ke-5 akhirnya membawa satu pesan sederhana arsitektur bukan hanya tentang bangunan, tetapi juga tentang manusia, sejarah dan identitas yang hidup di dalamnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.