Firman Latif Ingatkan Masyarakat Tidak Alih Fungsikan Lahan Pertanian ke Kelapa Sawit

oleh -210 views
oleh
Anggota DPRD Nunukan, Firman Latif menggelar Sosperda Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan

NUNUKAN.LK – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPRD) Nunukan, Kalimantan Utara, H. Firman Latif, mengingatkan masyarakat tidak melakukan alih fungsi lahan tanaman kakao dan pisang ke kelapa sawit yang rakus akan air.

“Alih fungsi usaha perkebunan boleh saya, tapi jangan sampai secara menyeluruh yang bisa berdampak pada hilangnya tanaman selama ini menjadi andalan,” kata Firman, Selasa (11/08/2206).

Firman menerangkan, Alih fungsi atau transisi lahan dari perkebunan kakao ke kelapa sawit memberikan dampak nyata pada aspek ekonomi petani, sosial masyarakat, dan lingkungan akibat peralihan karakteristik komoditas tersebut

Pernyataan tersebut disampaikan Firman saat menggelar Sosialisasi Peraturan Daerah (Sosperda) Nunukan Nomor 3 Tahun 2024 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B), di Pulau Sebatik.

“Pulau Sebatik, memiliki sejumlah komoditas pangan andalan yang bahkan menjadi bahan pangan ekspor karena biasa dijual dan dikirim ke Tawau, Malaysia,” sebutnya.

Tanaman kakao, pisang, durian, rambutan, duku pertanian padi telah menjadi komoditi andalan pulau Sebatik sejak puluh tahun lalu, namun tanaman ini mulai tersingkirkan sejak masyarakat mulai berlomba-lomba membuka lahan kelapa sawit.

Perubahan lahan-lahan perkebunan secara besar-besaran ke kelapa sawit berdampak besar terhadap sumber air tanah, sehingga tidak heranlah air bersih dalam 10 tahun terakhir semakin sulit diperoleh masyarakat.

“Kelapa sawit rakus air, kalau semua lahan diganti ke sawit, maka sudah dipastikan kita semua kesulitan mendapatkan air,” tuturnya.

Lahirnya Perda Nomor 3 Tahun 2024 merupakan payung hukum untuk menjaga lahan pertanian produktif dari alih fungsi non-pertanian, seperti permukiman atau industri.

Sejalan dengan itu, Pemerintah Indonesia saat ini sedang gencar-gencarnya menggalakan ketahanan pangan yang tentunya memerlukan kawasan pertanian luas untuk menolak usaha petani agar secara berkelanjutan.

Ketahanan pangan menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Masyarakat yang memiliki akses pada pangan yang cukup dan berkualitas akan lebih resilient terhadap berbagai guncangan ekonomi.

“Saya memahami hasil kelapa sawit lebih menjanjikan dan memiliki jangka waktu panjang, tapi kita juga harus memperhatikan tanaman pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.