Fasilitasi Polisi dan Imigrasi Terbitkan PLB Semakin Memotivasi Anak-Anak PMI Bersekolah di Pulau Sebatik

oleh -
oleh
Fasilitasi Polisi dan Imigrasi Terbitkan PLB Semakin Memotivasi Anak-Anak PMI Bersekolah di Pulau Sebatik

NUNUKAN.LK – Fasilitasi Polres Nunukan bersama Imigrasi Nunukan, menerbitkan Pas Lintas Batas (PLB) semakin memotivasi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) Malaysia, untuk bersekolah di perbatasan pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan

“Kami sangat terbantu dengan pembuatan PLB ini. Sekarang anak-anak PMI bisa keluar masuk dengan aman melintasi perbatasan RI–Malaysia,” kata guru SDN 05 Kecamatan Sebatik Tengah, Andreas Baha, Rabu (30/9/2026).

Perhatian dan kepedulian aparat penegak hukum (APH) terhadap anak-anak PMI yang bersekolah di SDN 05 Sebatik Tengah telah terbangun sejak 2025, baik melalui kegiatan pendidikan di luar sekolah maupun bantuan peralatan sekolah.

Kehadiran personel Polres Nunukan yang berinteraksi langsung dengan anak-anak PMI turut menumbuhkan kesadaran tentang pentingnya pendidikan sebagai bekal untuk meraih cita-cita.

“Kalau kita tanya, banyak anak-anak bercita-cita menjadi polisi. Mereka terinspirasi karena sering berinteraksi dengan polisi di sekolah,” ujar Andreas.

Menurut Andreas, pembagian PLB tidak hanya memberikan kemudahan bagi anak-anak PMI dalam melintasi perbatasan, tetapi juga memperkenalkan pentingnya dokumen keimigrasian dan identitas kewarganegaraan Indonesia kepada mereka.

Penerbitan PLB juga menjadi langkah awal bagi pihak sekolah untuk memperkenalkan dokumen keimigrasian Indonesia kepada siswa dan siswi yang tinggal di kawasan perbatasan.

“Anak-anak PMI Malaysia yang bersekolah di Pulau Sebatik semakin termotivasi untuk belajar setelah memiliki PLB. Mereka bangga diakui sebagai anak bangsa meski tinggal di Malaysia,” bebernya.

Banyak Anak PMI Berhenti Sekolah

Terlepas dari persoalan identitas diri, Andreas menjelaskan, jarak tempat tinggal anak-anak PMI yang berada di kawasan perkebunan kelapa sawit di Malaysia menjadi salah satu kendala mereka bersekolah di Pulau Sebatik.

Jarak rumah ke sekolah sekitar 10 kilometer. Kondisi tersebut membuat sebagian anak harus berjalan kaki pulang-pergi sehingga kelelahan dan akhirnya kehilangan minat untuk bersekolah.

Tidak sedikit anak-anak PMI yang kemudian berhenti sekolah. Padahal, menurut Andreas, mereka tergolong rajin dan cepat menyerap pelajaran ketika berada di lingkungan sekolah.

“Dulunya SDN 05 Sebatik Tengah punya 30 murid anak PMI. Sekarang tinggal 10 anak. Mereka berhenti sekolah karena capek, ada juga yang membantu pekerjaan orang tuanya di kebun sawit,” jelasnya.

Andreas mencontohkan seorang siswa bernama Abdul Rahman yang pernah tidak masuk sekolah selama dua minggu. Pihak sekolah kemudian mencari informasi dengan mendatangi rumah orang tua Rahman untuk mengetahui alasan anak tersebut tidak bersekolah.

Orang tua Rahman mengaku kaget setelah mengetahui anaknya tidak masuk sekolah. Sebab, setiap pagi Rahman tetap berangkat dari rumah dan biasanya pulang pada siang hari.

“Setelah kami cari keberadaan Rahman, ternyata dia ada di gubuk perkebunan kelapa sawit. Ketika kami tanya kenapa tidak sekolah, Rahman menangis. Katanya dia sangat capek karena sekolah sangat jauh,” ungkap Andreas.

No More Posts Available.

No more pages to load.