DPRD Nunukan Prihatin Atas Minimnya Anggaran Diberikan KONI ke Cabor Berprestasi

oleh -269 views
oleh
Atlet Kempo Nunukan bertanding di Bupati Malinau Cup ke-V 2026

NUNUKAN.LK – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan, Muhammad Mansur, mengaku prihatin atas minimnya anggaran dialokasikan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Nunukan kepada tiap Cabang Olahraga (Cabor).

Mansur menilai anggaran diterima tiap Cabor sangat tidak realistik dengan perjuangan para atlet – atlet dalam meraih prestasi, maupun mempertaruhkan diri dalam tiap even perlombaan yang diikuti.

“Kemarin atlet Kempo mengikuti Bupati Malinau Cup ke-V 2026, Saya miris mendengar KONI Nunukan hanya mengalokasikan Rp 20 juta untuk memberangkatkan atlet dan officiel,” kata Mansur, Selasa (11/08/2026).

Minimnya anggaran diterima Cabor Kempo dalam berlaga di Bupati Cup Malinau memaksa para atlet dan pelatih ekstra keras menghemat biaya akomodasi maupun transportasi selama tiga hari sejak 6 – 8 Agustus 2026.

Meski dipaksa menghemat biaya, atlet Kempo Nunukan berhasil membawa pulang 4 medali emas, 3 perak dan 5 perunggu, prestasi ini menempatkan Kempo Nunukan berada di juara umum kedua di bawah Bulungan.

“Saking minimnya anggaran, honor untuk 5 official diberikan kepala 17 atlet Kempo untuk mencukupi biaya selama di Malinau,” sebutnya.

Koni Nunukan harusnya menghitung biaya kebutuhan transportasi dari Nunukan menuju Malinau, termasuk penginapan hingga carter kendaraan dari hotel ke lokasi pertandingan termasuk asupan makan bernutrisi dan vitamin

Selama ini Cabor Kempo selalu menorehkan prestasi di tingkat Kabupaten hingga Provinsi, bahan atlet Kempo Nunukan beberapa kali bertanding di ajang nasional dan internasional dengan membawa hasil memuaskan.

“Uang Rp 20 juta habis untuk transportasi saja, bagaimana bonus atlet berprestasi meraih medali atau setidaknya uang belanja selama di sana,” terangnya.

Kedepan, Mansur meminta Koni memberikan alokasi ke masing-masing Cabor dengan melihat rasa kemanusian, jangan selalu membebankan biaya pembinaan maupun kebutuhan anggaran pertandingan ke pribadi atlet.

Tidak sedikit orang tua atlet ikut membantu biaya transportasi untuk tiap kali keberangkatan atlet, kondisi ini terjadi pula terhadap Cabor-Cabor lainnya yang selalu kesulitan memenuhi biaya.

“Kenapa atlet berprestasi Nunukan banyak diambil daerah lain, ini semua karena Koni dan Pemerintah Nunukan kurang memberikan penghargaan kepada atlet,” ujarnya.

Mansur meminta Koni Nunukan segera memperbaiki kepengurusan dan lebih serius pengatur anggaran diberikan pemerintah daerah sebesar Rp 2 miliar untuk meningkatkan prestasi Cabor dan para atlet.

“Harusnya Koni Nunukan malu melihat kondisi seperti ini, hampir semua Cabor mengeluh selalu kesulitan mendapatkan anggaran pembinaan,” bebernya.

Sementara itu, Sensei Kempo Nunukan, Ismail menerangkan persoalan anggaran selalu menjadi polemik berkepanjangan setiap yang seakan tidak ada solusi. Pergantian kepengurusan Koni baru juga tidak menunjukan perubahan.

“Saya kira hampir semua Cabor tiap mengikuti pertandingan diluar daerah selalu menyebar proposal bantuan dana, cara ini agak merendahkan kami sebagai pengurus,” sebutnya.

Cabor Kempo Nunukan dapat dikatakan salah satu olahraga tertua di Kabupaten Nunukan yang berdiri sejak tahun 1973. Prestasi Kempo Nunukan sudah mengharumkan nama daerah terbukti dengan meraih medali emas di PON Samarinda 2028

Selanjutnya, tahun 2011 Atlet Kempo asal Nunukan menjadi perwakilan Indonesia di ajang di Sea Games Jakarta – Palembang, dengan membawa pulang medali perak. Kemudian tahun 2012, Atet asal Nunukan kembali peraih medali perak di PON Riau

Pada Sea Games di Myanmar 2013, Isna Suryani atlet Kempo Nunukan menyabet medali perak dan tahun 2015 kembali meraih medali perak di kejuaraan Taikai di Tadotsu, Jepang.

No More Posts Available.

No more pages to load.