Buah Sawit Petani Sebatik Terancam Busuk Akibat Jalan Terputus

oleh -134 views
oleh
Jembatan Sei Batang, Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik dikerjakan tahun 2025 mengalami kerusakan pasca banjir

NUNUKAN.LK –  Ancaman membusuknya Tanda Buah Segar (TBS) kelapa sawit mulai menghantui masyarakat, pasca banjir yang merusak jembatan dan akses jalan di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, Kabupaten Nunukan.

“Tidak saya tahu pasti berapa ton TBS siap panen, tapi disana banyak kebun-kebun sawit masyarakat yang buahnya masuk musim panen,” kata Anggota DPRD Nunukan, Hamsing, Rabu (29/07/2206).

Kerusakan jembatan dan jalan yang hingga kini belum ada perhatian perbaikan dari pemerintah menimbulkan keresahan bagi petani sawit, Pasalnya, TBS yang telah dipanen harus segera di jual ke pengepul atau pabrik.

Hamsing meminta pemerintah daerah segera menanggulangi kerusakan jembatan karena fungsi infrastruktur tersebut sangat vital sebagai satu – satunya akses penghubung jalan tani ke jalan protokol dan jalan antar desa.

“Kita lagi carikan solusi bagaimana caranya buah-buah sawit petani bisa terangkut keluar dari kebun, tapi langkah terbaiknya tetap meminta perbaikan jembatan ke pemerintah,” bebernya.

TBS kelapa sawit yang telah dipanen harus segera dijual dan diolah dalam waktu kurang dari 24 jam untuk mencegah lonjakan kadar asam lemak bebas (FFA) yang merusak kualitas minyak.

Jika jembatan dibiarkan dalam waktu lama, puluhan bahkan ratusan petani akan mengalami kerugian besar akibat TBS kelapa sawit membusuk. Dampak kerugian ini berpengaruh pada perekonomian di pulau Sebatik.

“Pemilik kebun sawit di sana tidaknya hanya warga Tanjung Karang, warga Sei Nyamuk dan lainnya banyak berkebun disana, mereka mulai gelisah kapan bisa keluarkan TBS,” tuturnya.

Sementara itu, Kades Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik, Faisal mengaku telah bertemu dengan masyarakat dan petani sawit membahas keluhan ancaman membusuknya TBS kelapa sawit di akhir bulan Juli 2026.

“Gejolak keresahan masyarakat sudah muncul sejak jembatan rusak, saya sudah sampaikan ke pak camat dan beberapa anggota DPRD, termasuk pemerintah kabupaten,” terangnya.

Faisal meminta masyarakat maupun pemilik kebun sawit untuk bersabar menunggu informasi lanjutan dari pemerintah kabupaten dan dinas terkait dalam penanggulangan perbaikan infrastruktur.

Saat ini, sejumlah kelompok masyarakat bergotong royong membuat jembatan kayu darurat guna pejalan kaki maupun kendaraan agar dapat melintasi jembatan, namun keadaan ini sangat rawan akan bahaya tergelincir.

“Ada saja satu atau dua sepeda motor kami bantu lewat dengan cara diangkat, begitu pula pejalan kaki. Untuk mobil tidak mungkin bisa lewat,” jelasnya.

Selain ancaman busuknya TBS kelapa sawit, kerusakan jembatan dan amblasnya jalan menghambat transportasi bagi anak-anak ke lokasi sekolah yang jaraknya cukup jauh sekitar 20 menit dari pemukiman penduduk.

“Biasanya anak-anak ke sekolah diantar orang tuanya naik sepeda motor, sejak jembatan rusak terpaksa berjalan kaki yang cukup jauh,” terangnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.