BPOM Tarakan Temukan Cemaran Bakteri di Menu MBG Sebatik Tengah

oleh -
oleh
Penanganan pasien anak SD diduga keracunan menu MBG di pulau Sebatik

NUNUKAN.LK – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-PPKB) Nunukan, telah menerima hasil uji laboratorium dari BPOM Tarakan, terkait pemeriksaan menu Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga penyebab keracunan puluhan pelajar di pulau Sebatik, Selasa (30/9/2025)

“Hasilnya uji mikrobiologi sudah diterima, dari 5 sampel dikirim yakni nasi putih, semangka, telur balado, tahu balado, tumis wortel dan sawi, tidak ditemukan cemaran kimia berbaya,” kata kepala Dinkes – PPKB Nunukan, Miskia, Sabtu (18/10/2025).

Meski tidak ditemukan kimia berbahaya, namun berdasarkan uji mikrobiologi BPOM Tarakan mengindikasikan menu MBG tidak memenuhi syarat sebagaimana Permenkes Nomor 2 Tahun 2023 dan Peraturan BPOM Nomor 11 Tahun 2019.

Dimana sampel pangan menu MBG tersebut terindikasi mengandung cemaran bakteri Bacillus Cereus yang dapat menyebabkan gejala nyeri perut, mual, muntah dan kadang  diare terhadap orang yang mengkonsumsi.

“Tidak berbedda dengan hasil pemeriksaan mikrobiologi dari BBLKM  Surabaya, Dari tiga spesimen muntahan dan 1 spesimen feses/tinja dari korban, semua mengandung bakteri Staphylococcus Aureus,” sebutnya.

Miskia menerangkan, munculnya bakteri Bacillus Cereus pada menu MBG yang dikelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Pendidikan Yatim, Kecamatan Sebatik Tengah, bisa disebabkan oleh beberapa faktor).

Seperti penyiapan makanan masak oleh SPPG pada suhu ruang tang tidak sesuai, penyimpanan dalam wadah besar dalam alat pendingin atau kulkas, menyentuh makanan matang atau pada suhu bangat (suku inkubasi bakteri.

Termasuk pula terhadap menyiapkan makanan lebih dari 4 jam sebelum dikonsumsi penerima MBG, pemanasan kembali makanan sisa yang tidak mencukupi, fermentasi makanan berasam rendah tak normal.

“Banyak hal penyebab bakteri, misalnya menggunakan kipas angin untuk pendinginan makanan, tata cara pembersihan dan penyimpanan ompreng tidak memenuhi syarat bisa memicu terjadinya bakteri,” jelasnya.

Terhadap hasil uji sampel yang menyimpulkan ada bakteri, Dinkes – PPKB Nunukan meminta SPPG Sebatik Tengah untuk mengikuti pelatihan keamanan  pangan siap saji sebagai  upaya meningkatkan pengetahuan terkait pengelolaan makanan dari awal pemilihan bahan baku, sampai penyajian.

SPPG juga diminta melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para  penjamah atau pekerja makanan, melalui koordinator BGN Provinsi Kalimantan Utara dan Mitra dapur SPPG Yayasan Bina Pendidikan Yatim  Sebatik.

“SPPG Yayasan Bina Pendidikan Yatim ditutup sementara dan diminta segera melengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS),” terangnya.

Dinkes – PPKB Nunukan bersama petugas Puskesmas setempat, akan terus melakukan  pengawasan, memberikan saran serta pendampingan kepada semua SPPG yang ada di Kabupaten  Nunukan.

Miskia juga meminta Tim  Satgas MBG Kabupaten Nunukan agar penambahan jumlah kuota rekanan dapur SPPG dengan mengan tetap menyesuaikan kondisi dilapangan, termasuk untuk luasan dapur dan jarak tempuh antara SPPG dan sekolah.

“Pelaksanaan MBG harus menyesuaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan siap saji,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.