“Banyak hal penyebab bakteri, misalnya menggunakan kipas angin untuk pendinginan makanan, tata cara pembersihan dan penyimpanan ompreng tidak memenuhi syarat bisa memicu terjadinya bakteri,” jelasnya.
Terhadap hasil uji sampel yang menyimpulkan ada bakteri, Dinkes – PPKB Nunukan meminta SPPG Sebatik Tengah untuk mengikuti pelatihan keamanan pangan siap saji sebagai upaya meningkatkan pengetahuan terkait pengelolaan makanan dari awal pemilihan bahan baku, sampai penyajian.
SPPG juga diminta melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para penjamah atau pekerja makanan, melalui koordinator BGN Provinsi Kalimantan Utara dan Mitra dapur SPPG Yayasan Bina Pendidikan Yatim Sebatik.
“SPPG Yayasan Bina Pendidikan Yatim ditutup sementara dan diminta segera melengkapi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS),” terangnya.
Dinkes – PPKB Nunukan bersama petugas Puskesmas setempat, akan terus melakukan pengawasan, memberikan saran serta pendampingan kepada semua SPPG yang ada di Kabupaten Nunukan.
Miskia juga meminta Tim Satgas MBG Kabupaten Nunukan agar penambahan jumlah kuota rekanan dapur SPPG dengan mengan tetap menyesuaikan kondisi dilapangan, termasuk untuk luasan dapur dan jarak tempuh antara SPPG dan sekolah.
“Pelaksanaan MBG harus menyesuaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) keamanan pangan siap saji,” tutupnya.
