NUNUKAN.LK – Krisis air bersih di pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan tidak kunjung dapat diatasi pemerintah daerah, masyarakat terus mengeluhkan sulitnya mendapatkan air pasca kemarau yang mengakibatkan embung Lapri kehabisan bahan baku air.
Anggota DPRD Nunukan, Hj. Nadia mengatakan hampir setiap hari obrolan masyarakat hanya seputar sulitnya mendapatkan air bersih, hal ini semakin diperparah setelah munculnya protes warga terhadap belum terlaksananya pembayaran ganti rugi lahan embung Lapri.
“Sejak bulan Ramadan kami di pulau Sebatik kesulitan air, suplai air dari Perumda Air minum Tirta Taka Nunukan hanya sesekali mengalir,” kata Nadia, Jumat (03/04/2026).
Sejak embung Lapri mengalami penyusutan air, distribusi air bersih dari Perumda Tirta Taka bergiliran, terkadang sampai satu pekan air tidak mengalir ke rumah-rumah pelanggan di pulau Sebatik.
Masyarakat hanya bisa pasrah menerima nasib, jalan satu-satunya mendapatkan air bersih dengan cara membeli dari penjual air keliling yang harga cukup mahal sekitar Rp 100.000 sampai 150.000 tiap profil tank isi 1.200 liter.
“Mana juga tahan kalau tiap minggu beli air. Kasihan keluarga yang tidak mampu beli air mau dapat dari mana lagi mereka,” ujarnya.
Keluhan air bersih di perbatasan Sebatik tidak hanya dirasakan masyarakat kurang mampu, masyarakat dengan ekonomi berkecukupan ikut terbebani jika tiap 2 hari sekali membeli air bersih dari penjual keliling.
Nadia mencontohkan, kebutuhan air di rumahnya bisa menghabiskan 12 sampai 15 profil tank isi 1.200 liter per bulan, jika tiap 1 profil tank harga Rp 100.000, maka uang beli air setiap bulannya menghabiskan Rp 1,5 juta.
“Saya dari awal Ramadan sampai sekarang sudah beli air tank sekitar 30 kali, apalagi pas lebaran kemarin semakin banyak air dibeli,” ucapnya
Embung Lapri
Sebagai anggota DPRD Nunukan Dapil Sebatik, Nadia mengaku sudah berulang kali menyampaikan aspirasi masyarakat kepada Pemerintah Nunukan terkait permintaan ganti rugi lahan di sekitar kawasan embung Lapri.
“Dari bupati sebelum ibu Asmin Laura saya sampaikan keluhan warga ini, sampai berganti Bupati baru Irwan Sabri, mereka janji-janji saja mau ganti lahan itu,” terangnya.
Persoalan air bersih di pulau Sebatik semakin parah bersamaan munculnya aksi dari pemilik lahan yang dijanjikan ganti rugi mendatangi embung Lapri bersepakat membuka pintu air agar luapan air embung tidak menggenangi lahan kebunnya.
Dibukanya pintu air embung Lapri akan berdampak semakin menipisnya stok air baku, air hujan yang masuk ke embung terbuang percuma, hal ini secara tidak langsung semakin menurunkan kapasitas produksi air PDAM.
“Mau gimana lagi, warga terpaksa bikin aksi membuka pintu air embung, habis Pemkab juga janji-janji aja mau ganti rugi,” tuturnya.
Persoalan krisis air dan lambatnya pembayaran ganti rugi lahan embung berpotensi memunculkan aksi protes lebih keras, Nadia menyebutkan bukan tidak mungkin warga membuat gerakan demonstrasi sebagai luapan kecewa.
“Air ini kebutuhan pokok, semua orang memerlukan cepat, jangan sampai warga Sebatik demo menuntut ganti rugi dan ketersedian air bersih,” ungkap Nadia.




