“Kita yakin semakin banyak dapur MBG, maka semakin berkembang pula pelaku usaha lokal karena pemilik dapur pasti memerlukan bahan baku untuk diolah menjadi masakan,” ucapnya.
Sementara itu, Pembinan Yayasan Astrada Garuda Jaya, Ibnu Saud menerangkan, program MBG adalah investasi yang dibangun oleh pemerintah dalam mempersiapkan masa depan regerasi muda yang lebih kuas dan cerdas.
“Menciptakan investasi itu tidak sebatas membangun sarana dan prasana infrastruktur, penguatan gizi dan protesin dari tubuh manusia juga bagian dari invstasi membangun SDM,” bebernya.
Banyak ahli dari dari universitas luar negeri belum lama ini bertemu Presiden Prabowo menyampaikan ingin datang ke Indonesia meneliti sistem pelaksanaan MBG dan dampak yang nantinya dihasilkan dari pemenuhan gizi.
Saud menuturkan, pemberian gizi terhadap anak-anak memiliki efek sangat luar biasa dibanding investasi lain karena hidup di zaman sekarang ini siapa yang paling berkuasa adalah mereka yang memiliki kuasa kemampuan SDM.
“Kira-kira kalau orang kelaparan apakah otaknya bisa cemerlang. Dengan kebodohan kita sulit bersaing dengan negara lain,” bebernya.
Beberapa negara besar di dunia sudah lama menerapkan program pemberian makan bergizi untuk anak-anak, negara-negara ini menyadari bahwa pemenuhan gizi adalah bagian dari upaya memperbaiki kemampuan SDM.
Tumbuh berkembangnya dapur-dapur MBG di berbagai wilayah Indonesia membawa dampak besar bagi perekonomian rakyat, pelaku usaha pertanian, perikanan dan peternakan ikut berkembang seiring banyaknya kebutuhan dapur MBG.
“Berapa banyak sayur, beras, telur dan daging yang disiapkan, berapa banyak bahan baku dibeli setiap hari untuk memenuhi 60 juta anak Indonesia yang menerima MBG” ungkapnya.




