Libatkan Lintas Sektor, Bappeda Nunukan Susun Aksi Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Lokal

oleh -
oleh
Seminar mematangkan penyusunan dokumen RAD-PGBPSDL tahun 2025–2029 yang digelar Bappeda Nunukan melibatkan lintas sektor

NUNUKAN.LK – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nunukan terus mematangkan penyusunan dokumen Rencana Aksi Daerah Pangan dan Gizi Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal (RAD-PGBPSDL) tahun 2025–2029.

“Dokumen ini akan menjadi pedoman dalam memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas gizi masyarakat, serta mengoptimalkan potensi sumber daya lokal secara berkelanjutan,” kata Pj. Sekretaris Daerah (Sekda) Nunukan, Raden Iwan Kurniawan, Minggu (25/10/2026).

Penyusunan dokumen yang bekerja sama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Borneo Tarakan (UBT) telah memasuki tahap penyelesaian laporan akhir.

Untuk menyempurnakan substansi dan menyelaraskan program lintas sektor, Pemerintah Kabupaten Nunukan menggelar seminar penyusunan dokumen RAD-PGBPSDL agar menjadi forum bagi perangkat daerah, akademisi.

“Termasuk para pemangku kepentingan kiranya dapat memberikan masukan guna memastikan dokumen yang disusun sesuai kondisi, kebutuhan, dan potensi daerah,” sebutnya.

Iwan menegaskan penyusunan rencana aksi ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan administrasi perencanaan, tetapi juga menjadi upaya menyatukan arah kebijakan dan program pembangunan pangan dan gizi di daerah.

Ia juga menekankan pentingnya komitmen seluruh perangkat daerah dan pemangku kepentingan agar rencana aksi yang disusun dapat diterjemahkan menjadi program dan kegiatan yang terukur, sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing.

“Pemanfaatan potensi pangan lokal menjadi salah satu fokus utama. Optimalisasi sumber daya yang dimiliki daerah diharapkan mampu mendukung ketersediaan pangan, memperkuat upaya perbaikan status gizi,” bebernya.

Beberapa indikator seperti Indeks Ketahanan Pangan (IKP), peningkatan produksi tanaman pangan dan hortikultura, prevalensi stunting, akses air minum, serta sanitasi layak dan aman akan menjadi pedoman penting dalam pembuatan dokumen.

Begitu pula data prevalensi stunting Kabupaten Nunukan pada 2025 tercatat sebesar 11,7 persen, realisasi akses air minum melalui Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) mencapai 62,04 persen, dengan target 64,51 persen

Kemudian, pengendalian penduduk dan keluarga berencana Kabupaten Nunukan mencatat sebanyak 51.777 dari total 60.250 kepala keluarga telah memiliki akses sanitasi layak pada 2025, atau sebesar 85,90 persen.

Upaya peningkatan kualitas gizi masyarakat membutuhkan pendekatan terpadu yang tidak hanya berfokus pada sektor kesehatan, tetapi juga melibatkan sektor pertanian, penyediaan air minum, sanitasi, dan bidang pembangunan terkait lainnya.

“Capaian dan target tersebut menjadi bagian penting dalam mengidentifikasi tantangan pembangunan pangan dan gizi,” jelasnya.

Ketua Tim Penyusunan RAD-PGBPSDL dari UBT, Muhammad Asfihannur Arifin, menekankan pentingnya penggunaan data yang valid serta pendekatan berbasis potensi lokal dalam merumuskan strategi dan rekomendasi pembangunan.

“Dokumen RAD-PGBPSDL harus mampu menggambarkan kondisi pangan dan gizi di secara komprehensif. Karena itu, data yang valid, identifikasi permasalahan, serta pemetaan potensi sumber daya lokal menjadi dasar penting dalam merumuskan strategi dan rekomendasi yang sesuai dengan kebutuhan daerah,” tegasnya.

Melalui penyusunan dokumen ini, arah kebijakan dan pelaksanaan program pangan dan gizi di Kabupaten Nunukan akan semakin terintegrasi, terukur, dan tepat sasaran. Rencana aksi tersebut juga diharapkan mampu memperkuat koordinasi antar sektor dalam mendukung pencapaian target pembangunan daerah.

No More Posts Available.

No more pages to load.