“Ada Istilah negara ku Indonesia, isi perut ku Malaysia, Istilah ini menggambarkan warga Krayan cinta Indonesia, tapi kebutuhan hidup dari Malaysia,” ucapnya.
Muliyono menerangkan, pemberian perlakuan khusus atau Inpres dalam pengelolaan wilayah perbatasan Krayan, akan mempercepat proses pembangunan ekonomi dan kebutuhan mendesak masyarakat.
Aturan yang terlalu sulit terbukti mempersulit pembangunan Krayan karena provinsi maupun kabupaten tidak berdaya menganggarkan dana lantaran terbentur aturan – aturan yang jika dilanggar menimbulkan persoalan hukum.
“Jalan trans nasional Krayan masuk anggaran APBN, tapi infrastruktur ini kurang diperhatikan pemerintah pusat, akibatkan banyak jalan dan jembatan rusak parah,” sebutnya.
Perbatasan Krayan jangan hanya dijadikan lokasi kampanye mencari massa pencalonan gubernur, bupati dan presiden bahkan legislatif, Krayan jangan hanya diakui sebagai bagian NKRI dikala membutuhkan dukungan.
Sepanjang masih ada umat manusia dan terpasang bendera merah putih, maka menjadi tanggung jawab Pemerintah Indonesia untuk membangun infrastruktur, kesehatan, pendidikan dan ekonomi rakyat.
“Krayan di ujung mata, Krayan diujung perhatian, Krayan di ujung Utara Indonesia, Krayan diujung paling tertinggal dan jauh lebih tertinggal dari perbatasan Sebatik,” ungkapnya.



