Penuhi Gizi Hingga Wilayah Pelosok, BGN Resmikan Beroperasinya SPPG Sungai Nyamuk Sebatik

oleh -
oleh
Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II, Badan Gizi Nasional, Dr. Nurjaeni, bersama Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Pemprov Kaltara, Sanusi serta tokoh masyarakat pulau Sebatik, H. Nuwardi bin Pakki (H.Momo) melakukan potong pita peresmian beroperasinya SPPG 3T Sungai Nyamuk Sebatik

NUNUKAN.LK – Direktur Penyediaan dan Penyaluran Wilayah II, Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Nurjaeni, menghadiri peresmian Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungai Nyamuk, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan.

“Hari ini dilaksanakan peresmian serentak 12 SPPG di wilayah Kalimantan Utara, delapan diantaranya beroperasi di wilayah Kabupaten Nunukan,” kata Nurjaeni, Rabu (14/10/2026).

Nurjaeni menerangkan, SPPG Sungai Nyamuk, yang beralamat di Jalan Bhakti Husada, Kecamatan Sebatik Timur, berada di wilayah terluar perbatasan Indonesia – Malaysia.

Pembangunan SPPG ini merupakan perintah langsung Presiden Prabowo Subianto, dalam menyentuh pemenuhan gizi bagi anak-anak yang berada di wilayah terpencil, sekaligus mengatasi angka stunting di Indonesia.

“Presiden menginstruksikan tata kelola pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) diperbaiki, salah satunya menghentikan penumpukan pembangunan SPPG di wilayah perkotaan (aglomerasi),” sebutnya.

SPPG wilayah 3T Sungai Nyamuk dikelola oleh Yayasan Langit Garuda Khatulistiwa milik pengusaha lokal pulau Sebatik. Keterlibatan mitra kerja membangun dapur MBG sangat membantu pemerintah dalam merealisasikan pemenuhan gizi anak-anak bangsa.

Berdirinya SPPG 3T dan prevalensi stunting adalah bagian dari visi presiden dalam melakukan pemerataan penyaluran uang negara, agar tidak hanya berputar-putar di pulau Jawa dan Jakarta maupun kota-kota besar lainnya.

“Presiden ingin uang negara menyebar sampai ke pelosok – pelosok. Tiap dapur SPPG wilayah 3T diberikan dana oleh BGN sebesar Rp 1 miliar per bulan,” tuturnya.

Pemerintah pusat telah melakukan berbagai perbaikan sistem pengelolaan SPPG, salah satunya penerapan aplikasi layaknya marketplace dalam pengadaan bahan baku kebutuhan dapur MBG di tiap wilayah.

Perbaikan sistem ini mengharuskan tiap dapur MBG memenuhi bahan baku dari daerah setempat, terkecuali stok bahan baku tidak mencukupi sehingga dilakukan pembelian barang lintas provinsi atau daerah.

“Sebelumnya banyak dapur MBG beli bahan baku di luar daerah, nah kedepannya sudah tidak boleh lagi karena semua belanja akan dipantau oleh sistem aplikasi,” bebernya.

Penerapan sistem aplikasi marketplace sangat menguntungkan sekaligus memacu tiap daerah mengembangkan sektor pertanian, perikanan dan peternakan dalam pemenuhan bahan baku dapur MBG.

Untuk itu, Nurjaeni meminta pemerintah daerah dan pemerintah provinsi dapat mendorong produktivitas sektor pertanian dan peternakan dengan memanfaatkan lahan-lahan tidur maupun lahan-lahan kosong dimulai dari rumah tangga.

“Sekolah dan penduduk mungkin bisa memanfaatkan lahan-lahannya membuat kandang ayam, kebun sayuran bahkan kolam ikan untuk kebutuhan dapur MBG,” ungkapnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.