HUT ke-14 Kaltara, M. Nasir : Kemajuan Harus Diikuti Pemerataan, Hilirisasi dan Penguatan Perbatasan

oleh -
oleh
Anggota DPRD Kaltara M. Nasir

Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menempatkan Kalimantan Utara sebagai sentra produksi rumput laut terbesar ketiga di Indonesia setelah Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur, dengan Nunukan dan Tarakan menjadi sentra produksi utama Kaltara.

Namun potensi produksi yang sangat besar tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan tumbuhnya industri pengolahan rumput laut di dalam daerah.

Nasir mengatakan pembangunan industri pengolahan rumput laut merupakan peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi Kaltara.

“Kita harus melihat ini sebagai peluang. Kita sudah memiliki kekuatan di hulunya karena Kaltara merupakan produsen terbesar ketiga nasional. Berikutnya yang harus kita perjuangkan adalah hilirisasinya,” kata M. Nasir.

Menurutnya, keberadaan industri pengolahan akan membuat rumput laut tidak hanya keluar dalam bentuk bahan baku kering, tetapi dapat diolah menjadi produk dengan nilai tambah lebih tinggi seperti karaginan, agar maupun berbagai produk turunannya.

“Kalau industri pengolahan hadir di Kaltara, petani memperoleh pasar yang lebih dekat, harga diharapkan lebih stabil, lapangan kerja baru tercipta, UMKM turunannya berkembang dan nilai tambah ekonominya tinggal di daerah,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah provinsi bersama pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah pusat semakin aktif menawarkan potensi tersebut kepada investor.

“Kita sudah memiliki bahan bakunya, produksinya besar dan masyarakat kita sudah lama menggeluti usaha ini. Tinggal bagaimana pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan menghadirkan ekosistem industri pengolahannya. Ini peluang besar bagi Kaltara,” katanya.

PLBN Sebatik Segera Difungsikan

Nasir mengapresiasi upaya pemerintah pusat yang sepanjang 2026 semakin intensif mencari format operasional PLBN Sebatik, dimana sejumlah kementerian dan lembaga telah menyepakati pengembangan konsep port-to-port, dengan integrasi unsur kepabeanan, imigrasi, karantina, keamanan dan kepelabuhanan atau CIQSP.

Hingga Oktober 2026, pelayaran domestik masih menunggu keputusan BNPP, sementara pelayanan internasional Sebatik – Malaysia belum terealisasi sepenuhnya dan masih memerlukan penyelesaian kesepakatan kedua negara.

“Kami menunggu keseriusan pemerintah pusat dalam mempercepat operasionalisasi PLBN Sebatik agar- benar-benar dapat difungsikan, bebernya.

Sebatik memiliki posisi strategis karena berbatasan langsung dengan Sabah, Malaysia. keberadaan PLBN bukan hanya memperkuat pengawasan dan kedaulatan negara tetapi juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi masyarakat perbatasan.

“Masyarakat berharap PLBN Sebatik jadi pintu resmi yang hidup. Ketika arus orang dan barang dapat dilayani dengan baik, perdagangan lebih tertib, pelayanan masyarakat lebih mudah, aktivitas ekonomi tumbuh dan kehadiran negara di perbatasan semakin kuat,” katanya.

Menjaga Keseimbangan Pertumbuhan dan Pemerataan

Nasir menilai salah satu agenda penting Kaltara ke depan adalah menjaga keseimbangan antara berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan percepatan pembangunan di pedesaan, pedalaman dan perbatasan.

Menurutnya, keberadaan kawasan industri, masuknya investasi besar dan berkembangnya sektor pengolahan merupakan modal penting bagi masa depan Kaltara.

No More Posts Available.

No more pages to load.