DPRD Nunukan Apresiasi Penerimaan Calon TNI AD dari Suku Dayak

oleh -
oleh
Pengumuman Penerimaan Calon TNI khusus Suku Dayak

NUNUKAN.LK – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Nunukan, Ryan Antoni menyambut baik langkah TNI Angkatan Darat (AD) dalam merekrut khusus pemuda suku dayak menjadi Calon Bintara (Caba) maupun Calon Tamtama (Cata).

“Sangat luar biasa keputusan Kodim 0911 Nunukan, kami masyarakat Dayak menyambut baik kebijakan yang memberika  peluang besar bagi pemuda pribudi menjadi TNI AD, kata Ryan, Kamis (10/9/2026).

Namun begitu, informasi menerima TNI AD untuk pemuda pribudi dayak belum tersebar secara laus. Untuk itu, Ryan meminta Kodim dan Koramil dapat menginformasikan hingga ke pelosok pedalaman kabupaten Nunukan.

Terlebih para Caba atau Cata dari suku Dayak, jika memungkinkan diberi pengecualian tentang ketatnya larangan tato, dan menambah usia maksimal dari persaratan normal pendaftar maksimal 22 tahun menjadi 26 tahun.

Ryan menambahkan, sebaiknya, informasi ini disebarkan ke setiap Kecamatan, sehingga Camat akan melanjutkannya ke tingkatan terbawah.

Kendala penyebaran info perekrutan TNI AD bagi pemuda Dayak, sebatas melalui spanduk yang terpasang di Koramil.

‘’Memang seharusnya ada sosialisasi yang gencar dilakukan melibatkan pihak ketiga. Kurangnya waktu persiapan menjadi salah satu faktor keluarga Dayak kurang minat dengan kabar bahagia tersebut,’’ sesal Rian.

Tak bisa dipungkiri, isu negatif terkait perekrutan aparatur negara berbayar, khususnya TNI/POLRI, menjadikan masyarakat perbatasan RI – Malaysia skeptis.

‘’Butuh ada Bhabinsa yang pro aktif turun ke masyarakat. Mengumumkan perekrutan dan menjernihkan isu negatif yang selama ini berkembang luas di kalangan masyarakat,’’ lanjut Rian.

Rian meminta Dandim 0911/Nunukan membuat sebuah program khusus seperti Tentara Mengajar, untuk mempersiapkan anak anak pedalaman yang bakal direkrut, baik secara fisik, mental maupun intelektual.

Selama ini, anak anak pedalaman memiliki kondisi serba terbatas, dimana kualitas pendidikan mereka berbeda dengan anak anak kota.

Informasi detail seperti harus suntik parises tiga kali setahun, dan info penting lain, masih banyak yang tak mereka ketahui.

‘’Minimal setahun sebelum perekrutan, anak anak kami diberi pembekalan, diberi bimbel dan kisi kisi soal yang berpotensi muncul sebagai materi ujian. Kami siap biayai itu, mulai tiket pesawat dan konsumsi, kami Lembaga Adat yang siapkan,’’ kata Rian lagi.

Sejauh ini, banyak anak anak Dayak gugur dan tak lolos seleksi karena minim persiapan.

Selain itu, Rian menyesalkan diskriminasi terhadap anak anak Dayak yang masih terjadi. Sampai hari ini penerimaan Polisi dan Security, melarang keras tato maupun tindik telinga.

‘’Sementara anak anak kami mengekspresikan diri karena kebanggaannya sebagai Suku Dayak. Mereka bertato dan mengadopsi simbol Dayak,’’ kata dia.

Anak anak Dayak, lanjutnya, memiliki fisik yang mumpuni karena sering berjalan jauh dan berburu di kedalaman hutan. Ini memberi mereka keuntungan untuk survive di hutan saat gerilya dilakukan.

’Berbanding terbalik dengan teman teman aparat ketika sudah jadi TNI – POLRI, mereka boleh bertato, boleh tindik. Anak anak intel banyak sekali berpenampilan demikian. Kenapa anak anak kami dilarang,’’ tanyanya.

Masalah inipun pernah disampaikan Rian ke Kapolres Nunukan. Termasuk keluhan penolakan lowongan sekolah Security.

‘’Pengecualian tato dalam perekrutan TNI AD bisa menjadi awal yang baik atas diskriminasi anak anak Dayak terkait tato dan tindik,’’ kata Rian.

No More Posts Available.

No more pages to load.