Andi Yakub : Minimnya Resapan dan Saluran Air ke Laut jadi Penyebab Banjir Sebatik

oleh -184 views
oleh
Jalan dan jembatan rusak akibat banjir yang melanda pulau Sebatik perbatasan RI – Malaysia (Foto : Nadia Raja Laut)

NUNUKAN.LK – Persoalan banjir yang terus melanda empa kecamatan di pulau Sebatik tidak luput dari dampak semakin meningkatnya penebangan pohon-pohon sebagai penunjang resapan air ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.

“Luasan hutan lindung pulau Sebatik kecil 2.300,12 hektar, ditambah lagi pemilik lahan penebang pepohonan di tepi – tepi jalan yang harusnya penopang potensi longsor,” kata anggota DPRD Nunukan, Andi yakub, Selasa (28/07/2026).

Banjir yang terjadi di pulau Sebatik telah mengakibatkan sejumlah jalan dan jembatan rusak, banjir juga merusak lahan pertanian, perkebunan hingga mengganggu sektor peternakan masyarakat.

Minimnya serapan air diperparah lagi oleh semakin terhambatnya arus air akibat menyempitnya luasan sungai bersamaan semakin bertambahnya pemukiman penduduk dan berdirinya bangunan rumah.

“Banyak hal faktor penyeyab banjir pulau Sebatik, semua ini akibat ulah manusia yang tanpa sadar mengurangi resapan air itu sendiri,” sebutnya.

Minimnya alokasi anggaran pembangunan di pulau Sebatik secara tidak langsung menghambat penanganan masalah ketika terjadi suatu kondisi emergensi, pemerintah daerah seakan tidak banyak berdaya mengatasi persoalan banjir.

Sebagai daerah rawan banjir, pulau Sebatik tidak bisa disamakan dengan wilayah lainnya yang memiliki dampak ringan akan potensi banjir, apalagi kontur tanah di Sebatik labil dan mudah bergerak.

“Coba lihat jalan lingkar pulau Sebatik berulang kali longsor, aspal jalan selalu rusak akibat tanah labil mudah longsor karena berada diatas tebing gunung,” bebernya.

Upaya pemerintah pusat dan Nunukan membangun drainase di sepanjang jalan utama Sebatik belum mampu mengatasi persoalan banjir, luapan air tetap menggenangi jalan-jalan protokol hingga masuk ke pemukiman penduduk dan tempat usaha.

Pembangunan drainase yang tidak ditunjang oleh saluran pembuangan air ke laut dituding sebagai salah satu faktor meluapnya air di sepanjang jalan, hal-hal seperti ini seharusnya dipahami oleh pemerintah.

“Drainasenya rapi bagus di tepi-tepi jalan, tapi entah kenapa tidak dipersiapkan aliran ke laut, inilah menyebabkan air terhambat dan menggenangi jalan,” terangnya.

Yakub menyebutkan, salah satu dampak banjir yang terjadi Minggu 20 Juli 2026 merusak jembatan di pemukiman penduduk RT 12, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Sebatik induk. Akses jalan menuju jembatan terputus akibat terkikis air.

Hingga saat ini, pemerintah setempat dan warga bersama-sama memperbaiki kerusakan jalan dan jembatan. Akibat kejadian ini, arus lalu lintas kendaraan dan pejalan kaki terhambat.

“Jembatanya masih berdiri, tapi jalan menuju jembatan longsor, jadi warga tidak bisa melintasi jembatan,” tutupnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.